Jumat, 02 Oktober 2009

Bahan Weekly Sosiologi Grade X

Sustained & Changed Norms – Values

Bertahan dan Berubahnya Nilai dan Norma


Pelajari buku sumber, Hal. 42 – 51 ( Hal.47 dilewatkan), jangan lupa untuk mempelajari tiap contoh yang diberikan.

Kisi - Kisi :

1. Faktor bertahannya nilai dan norma

2. Faktor penyebab berubahnya nilai & norma

3. Pengertian Perubahan sosial (social changed)

4. Respon terhadap perubahan sosial (menolak dan menerima)

Berikut ini adalah resume yang dapat kamu pelajari selain dari buku sumber.

A. Sustained Norms & Values ( Bertahannya nilai & norma)


•There are two main reasons of sustained norms and values :
1. Less of information
Individual acts commonly conform to the living values or norms of their community, the less new information they have, the less effects to their natural values are.
2. Fear of Social Control
Values and norms will keep sustaining if the members of community feel afraid of violating their values and norms.

B. Changed of Values and Norms (Berubahnya nilai & norma)


•Definition of Social Change
The transformation of culture , structure and social institutions over time.
•Causes of Change
There are about six factors influencing social change :
1. Demographics
–Increases and decreases in numbers can lead to social change as society may need to expand and/or contract
•Need for jobs, housing, education, etc

2. Isolation & Social Contact
The more a community is isolated, the more its values are stable. On the
contrary, the more community makes contact with other the more its values get influenced.
3. Social Structure
Depends on to the leadership style or social structure inside the community.


Kalian dapat menemukan faktor lainnya di dalam buku sumber. Hal. 48 - 49

C. Response to Social Change


•Menolak Perubahan
Berikut ini merupakan alasan utama, suatu komunitas menolak perubahan :
1. Perubahan tersebut dipaksakan oleh kelompok sosial atau kekuasaan lain.
2. Perubahan itu tidak dipahami.
3. Perubahan itu dinilai mengancam nilai dan norma yang dijunjung tinggi selama ini.


•Menerima Perubahan
Suatu komunitas yang menerima perubahan, sebelumnya akan melewati tahapan berikut ini :
1. Proses Internalisasi
Suatu proses panjang penanaman nilai, perasaan, dalam kepribadian seseorang.
contoh : ani dididik oleh orang tuanya untuk menghormati dan bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, ketika dewasa ani bergaul dengan kelompok yang memiliki pemikiran bahwa tidak semua orang yang lebih tua dihormati, contohnya orang yang berbuat kriminal dan tidak bermoral. pandangan tersebut diterima oleh ani dan di internalisasi sebagai nilai yang baru dalam dirinya.


2. Proses Sosialisasi
Suatu kelanjutan dari proses internalisasi, dimana seorang individu akan mewariskan nilai dan normanya kepada orang lain.

contoh : ani yang memiliki nilai menghormati dan sopan terhadap orang yang lebih tua, mensosialisasikannya pada teman - teman pergaulannya, dan ketika menjadi orang tua ia mengajarkan hal yang sama pada anaknya.


3. Proses Enkulturasi
merupakan proses pembudayaan. Dimana seorang individu berusaha menyesuaikan sikap dan perilakunya dengan nilai dan norma yang berlaku dalam budaya komunitasnya.

Happy Learning ! God bless...

Kamis, 12 Februari 2009

My Latest wRiting...(KOMPAS essay)

“Nol Kilometer” Antara Harapan dan Kenyataan
Nelly Idawaty.N
Langit biru menegaskan keindahan pesisir berpasir putih, kelam malam tak mampu menyembunyikan pesona eksotis dan bersejarah pantai Anyer. Terbayang bagaimana takjubnya sang Tuan Besar Guntur ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di pantai itu, dua ratus tahun yang lalu. Pada 5 Januari 1808, Daendels mendarat di Anyer—pantai yang indah sekaligus ramai karena para pelayar Cina yang akan pulang maupun meneruskan perjalanan bertemu di tempat itu.
Kesan Anyer sebagai pelabuhan alam saat masa kolonial atau bahkan tempat perlawanan rakyat melawan kompeni mungkin tidak lagi dapat ditangkap mata, sejak pantai itu tersapu gelombang pasang akibat letusan Krakatau (1883). Kala itu Daendels yang memiliki tugas khusus untuk mempertahankan Jawa dari kekuasaan Inggris dan melakukan pembaharuan terhadap pemerintahan Hindia Belanda, memulai langkahnya dengan melakukan pembangunan beberapa benteng pertahanan, serta perbaikan jalan. Mulanya, ia perintahkan perbaikan dan pelebaran jalan Anyer-Batavia, jalan ini adalah jalan yang ia tempuh selama empat hari ketika pertama kali tiba di Anyer dan berangkat menuju Batavia. Setelah jalur tersebut diperkeras dan dilebarkan akhirnya perjalanan Anyer-Batavia dapat ditempuh dalam waktu satu hari.
Jalan yang kemudian diteruskan hingga Panarukan, terbentang di sepanjang pantai utara Pulau Jawa tersebut kemudian dikenal dengan nama Jalan Raya Pos atau Groote Post Weg. Sebuah tapal berjarak 3 meter dari bibir pantai Mercusuar Anyer bertuliskan “0 KM Anyer-Panarukan 1808 AKL” seolah menandakan awal penderitaan puluhan ribu rakyat yang dipaksa bekerja meregang nyawa demi kepentingan kolonialisme.

Nol Kilometer Bukan Nol Potensi

Anyer bukan sekadar tempat sisa-sisa kepedihan rakyat pada masa kolonial, Anyer tidak hanya untuk dikenang sebagai titik awal sebuah peristiwa bersejarah, pembuatan Jalan Raya Pos. Lebih dari itu Anyer menyimpan begitu banyak potensi alam dan peninggalan bersejarah yang jika mampu dikembangkan secara optimal, dapat menepis sisi suram Anyer. Potensi wisata yang jika dikembangkan dan dipelihara dapat memberikan masa depan cerah bagi tiap anak cucu rakyat Anyer yang memang layak menerima kemerdekaan yang seutuhnya di negeri ini.
Anyer tidak hanya menyuguhkan pantai yang indah dengan kesejukan semilir angin, riak ombak yang berkejaran di atas pasir putih, atau kesibukan beberapa perahu nelayan yang melaut. Di kejauhan terlihat pemandangan Gunung Krakatau dan anak Gunung Krakatau, menjulang di tengah samudra berwarna biru cerah. Keindahan batu karang pun tak usah diragukan dapat dinikmati di sana. Salah satunya Karang Bolong, yang berada di Desa Karang Bolong, Kecamatan Cinangka, Serang. Cukup dengan membayar tiket sekitar Rp 5.000, pengunjung bisa memandang gelombang dari balik batu karang.
Anyer juga menyimpan potensi wisata bernilai sejarah, di kawasan Pantai Mercusuar Anyer, Desa Cikoneng, terdapat tapal batas pembangunan Jalan Anyer-Panarukan peninggalan Jenderal Daendels. Sekitar 10 meter arah timur tapal batas, terlihat sebuah mercusuar bercat warna putih yang menjulang setinggi 52 meter. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1885, pada zaman kekuasaan Raja Willem III. Dengan menaiki mercusuar yang telah dibuka untuk umum ini, kita dapat menikmati pemandangan seputar Selat Sunda, tumpukan karang yang berserak dengan indah di Anyer atau bahkan Gunung Krakatau.
Merupakan hal yang luar biasa jika kita dapat menikmati pemandangan pantai sekaligus dapat berwisata ke pegunungan. Di sebelah barat Provinsi Banten. Pesona pegunungan di sisi timur Pantai Anyer, juga bisa dijadikan sebagai tempat wisata alternatif. Salah satunya adalah Rawa Dano yang bisa dinikmati dari atas pegunungan Mancak.
Harapan Bagi Nol Kilometer
Menilik paparan tersebut patut disayangkan bila hingga saat ini, Anyer dan masyarakat Serang pada umumnya belum dapat merasakan manfaat yang berarti. Padahal Anyer telah memiliki infrastruktur jalan raya sebagai penghubung dengan daerah lainnya, bahkan jauh sebelum Daendels mengerjakan pembuatan Jalan Raya Pos. Seperti kita ketahui, jalan raya merupakan salah satu fasilitas yang penting dalam menentukan kemajuan pembangunan suatu daerah. Ironisnya Anyer yang sudah memiliki infrastruktur perhubungan sejak dua ratus tahun yang lalu belum mampu menunjukkan kemajuan yang dapat mensejahterakan rakyat. Hal ini dapat terlihat dari data statistik yang diperoleh dari BPS tahun 2005, bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah Serang hanya mencapai 4,40 %.
Kabupaten Serang memang memiliki berbagai sumber pendapatan daerah, yaitu yang berasal dari sektor perdagangan, perindustrian, pertanian, pariwisata dan perhotelan. Namun pemerintah daerah belum mengelola sumber-sumber pendapatan tersebut dengan merata, seperti yang dikatakan oleh salah seorang pengelola biro perjalanan di artikel Kompas (Rabu, 02 Maret 2005). Pendapatnya menyiratkan bahwa Anyer sebagai objek wisata belum dikembangkan secara optimal sehingga belum dapat menyerap wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemerintah daerah seharusnya mampu melihat ketersediaan potensi wisata dan peluang akses yang terbuka lebar dengan adanya Jalan Raya Pos. Wisatawan domestik maupun mancanegara sangat dimudahkan dalam menjangkau kawasan Anyer dan bahkan jika pemerintah jeli, Jalan Raya Pos sendiri dapat dijadikan salah satu magnet pariwisata Serang.
Bab IV mengenai Kewenangan Daerah, pasal 10 ayat 1 UU No.22 Tahun 1999 tertulis, “ Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. UU ini seharusnya menjadi landasan serta memberikan ruang yang besar bagi pemerintah daerah khususnya pemerintah Kabupaten Serang dalam memberdayakan dan melestarikan objek wisata Anyer demi kesejahteraan rakyatnya.
Dua ratus tahun bukanlah waktu yang singkat bagi kehadiran Jalan Raya Pos, Anyer dengan kemolekannya seharusnya mampu mengukir gemilang kemajuan lebih panjang dari 1000km Anyer-Panarukan.

Senin, 02 Juni 2008

Rabu, 28 Mei 2008

Selasa, 22 April 2008

Kamis, 10 April 2008

fRee ur miNd stUdz...

These are several poster design, made by grade 7 while civic lesson. i give them homework about freedom of speech, its an application of the topic. i motivated them to express their mind based on the topic they have chose. well done stuDz!

wHat a???

Civic Class
Si Ucok, murid kelas tiga SD mendapat tugas dari guru PPKN. Masing-masing murid harus maju ke depan kelas untuk menghafalkan PANCASILA.Keesokan harinya anak-anak tersebut datang ke sekolah dengan ciri khasnya masing-masing. Ada yang santai-santai saja, ada yang tegang menunggu giliran, dan ada yang datang dengan percaya diri tinggi.
Yang kelihatan paling percaya diri adalah si Ucok, anak dari Medan. Dia hapal sekali semua sila dalam Pancasila, sehingga dia amat senang,bahkan sempat menggoda temennya yang lagi kelihatan bingung. Giliran pertama yang maju ke depan adalah si Bejo. Walaupun agak gugup dia masih bisa menghafal Pancasila. Anak-anak bersorak sorai memberi semangat kepada Bejo.
Giliran kedua, si Buyung maju ke depan kelas.Ternyata si Buyung lebih lancar sedikit dari si Bejo sehingga tepuk tangan lebih meriah terdengar.Kemudian guru PPKN berkata, "Anak-anak, Bapak merasa bangga dengan kalian. Kedua teman kalian hebat. Sekarang kita sambut teman kita,Ucok ....
"Ucok, dengan gaya khasnya dari Medan merasa hapal sekali dan percaya diri tinggi. Dia maju ke depan. Semua teman-temannya hening menunggu Ucok menghapalkan Pancasila."Pancasila!", awal si Ucok. "Satu," kata si Ucok dengan gaya bataknya yang kental, "Ketuhanan Yang Maha Esa!""Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab!"Sampai disini teman-temannya memberi tepuk tangan yang meriah sekali.
Saking meriahnya si Ucok ikut terbawa sehingga dia lupa sila yang berikutnya. Semua temannya diam dan kelas hening. Si Ucok tambah bingung, yang dihapalkannya mendadak hilang. Keringat bercucuran dan si Ucok sudahhabis akal. Dia lupa sama sekali sila yang ketiga dan seterusnya.Akhirnya dia memutuskan untuk berkata, "Sila tiga, empat, dan lima, tidak ada perubahan!!"

rElaxing...

SACRIFICE
Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita. Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanita mengatakan sesuatu yang menyentuh. Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuk suami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan.

Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan.

Rabu, 09 April 2008

Senin, 07 April 2008

be aNalytical, be gOod citizen...

Corruptor




Pada suatu hari, sebuah surat kabar menerbitkan berita utama dengan judul besar-besar di halaman depan, "50% PEJABAT TINGGI KITA,KORUPTOR."


Tentu saja penanggung jawabnya mendapat teguran keras dan diharuskan meralat beritanya, kalau tidak, surat izin terbitnya akan dicabut.
Maka keesokan harinya, dimuatlah ralat dari berita sehari sebelumnya:

"Dengan ini, kami meralat berita utama kemarin yang berjudul `50% PEJABAT TINGGI KITA, KORUPTOR`, yang ternyata tidak benar.


Yang benar adalah `50% PEJABAT TINGGI KITA, BUKAN KORUPTOR`".